RESONANSI KEBAIKAN MELALUI GENERASI PERUBAHAN





Berbicara sejarah perempuan, juga berbicara tentang penjajahan. Dominasi laki – laki dalam peran publik dan domestikasi perempuan bukanlah hal yang baru, tetapi ini sudah berlangsung sepanjang perjalanan sejarah peradaban umat manusia. Konstruksi gender dalam perjalanan sejarah peradaban umat manusia dipengaruhi oleh berbagai macam faktor : sosial, kultural, ekonomi, politik, termasuk penafsiran terhadap teks – teks keagamaan.[1]
Menarik ketika berbicara mengenai pembahasan di atas. Terkait peran laki – laki dengan perempuan. Peran kesetaraan perlu didapatkan, hingga tidak ada lagi  ketidak imbangan peran antara laki – laki dengan perempuan. Keduanya dapat melakukan kebermanfaatan yang nyata dan merata untuk masyarakat. Tidak lagi, perempuan menjadi objek atas ketidak imbangan peran.
Dalam tulisan ini saya, mencoba mendeskripsikan salah satu tokoh wanita yang tidak dapat saya sebutkan namanya. Ketika dikatakan tokoh, tentu ada hal yang dapat kita teladani dari beliau, menurut saya. Banyak resonansi kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas tiada lelah oleh ibu ini. Beliau mengatakan  yang paling utama adalah mencetak generasi perubahan bukan generasi penerus. Sepanjang perjalanan hidupnya beliau mengutamakan  kebermanfaatan yang nyata dan merata untuk sekitarnya terutama generasi perubahan yang sering ia katakan.
Beliau seorang guru mengaji juga aktif dibeberapa kegiatan sosial. Sedikit kilas balik mengenai masa kecilnya. Dikisahkan sejak kecil ia memiliki impian ingin menjadi cendekiawan. Kala itu pendidikan formal untuk perempuan juga dipandang bukan hal yang utama. Perjuangannya  untuk memperoleh pendidikan tetap dilakukan dan memang harus terus dilanjutkan tanpa henti sampai tidak ada relasi kuasa antara laki – laki dan perempuan yang terjadi di masyarakat.
Impian menjadi cendekiawan tidak hanya diucapkan semata olehnya.  Budaya literasinya pun telah tertanamkan sejak kecil. Anggapannya literasi tak hanya baca buku, membaca keadaan sekitar pun termasuk budaya literasi. Maka, beliau cukup memiliki kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya. Terbukti dengan beberapa gerakan sosial yang diikutinya. Ia memiliki suami yang mendukung penuh kegiatan kerbermanfaatannya.
Mendukung penuh istrinya, untuk dapat memperoleh ilmu pengetahuan dan pengalaman di luar urusan rumah tangganya. Dan melakukan kebermanfaatan yang nyata. Dengan demikian, bersama kecerdasannya  dan ketekunannya dalam hal pendidikan bisa membantu membangun bangsa dan mewujudkan impiannya untuk mencetak generasi perubahan. Jika disandingkan dengan zaman sekarang ini, beberapa wanita nyaman dengan pemenjaraan diri wanita. Nyaman dengan perspektif akhir perjalanan wanita ialah sumur, dapur, kasur.
Jika dikaitkan pula dengan beberapa macam faktor konstruksi peran di atas jika disatu padukan dan dikaitkan sangat bersinggungan dengan pendidikan. Beberapa gambaran di atas terkait peran laki – laki dengan perempuan merupakan hal yang saling bersinggungan. Pada zamannya perempuan tidak dianggap penting untuk dapat memperoleh pendidikan. Sistem patriarki saat itu diberlakukan. Jika dilihat pada saat ini terdapat landasan yang tidak membenarkan hal itu di dalam pendidikan. Apabila hal itu diberlakukan akan terjadi kesenjangan pada bidang pendidikan.
Hal ini telah menjadi faktor utama yang sangat berpengaruh terhadap bidang – bidang yang lain. Seperti yang tercantum dalam Undang – undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, sebagaimana disebutkan pada pasal 4 ayat 1 yang berbunyi : “Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.” 
Hal ini perlu adanya pengawalan lebih intensif agar ini dapat dilaksanakan dan diberlakukan dengan baik. Agar kekhawatiran yang muncul terhadap kesenjangan pada bidang pendidikan. Laki – laki dengan perempuan memiliki hak yang sama dalam bidang pendidikan. Ini menjadi poin utama agar tidak berpengaruh terhadap bidang – bidang yang lain.
Paradigma perubahan harus ada di dalam setiap akal, pikiran serta hati perempuan, itu menjadi pondasi dasar perempuan dalam bergerak dan berpikir. Perempuan juga termasuk dalam revolusi besar dalam melahirkan bangsa baru. Sebelum bergerak melakukan sesuatu seorang perempuan perlu membekali dirinya. Agar pergerakan menghasilkan sebuah hasil yang diharapkan.
Perempuan memang sebaiknya memiliki ruang khusus untuk memperoleh pendidikan. Hal yang didapatkan mengenai hak memperoleh pendidikan juga harus setara dengan laki – laki.  Ini sebagai catur pusat : pendidikan di rumah, pendidikan di masyarakat, pendidikan di tempat – tempat ibadah. Ada tiga sifat buruk akar dari bencana kehidupan, yaitu kebencian, kebodohan, dan keserakahan. [2] 
Harapan besar agar sifat buruk tersebut tidak terjadi dan dapat diperjuangkan melalui pergerakan – pergerakan berbasis pendidikan. Dengan memposisikan diri kita sebagai pejuang seperti yang dilakukan oleh tokoh wanita yang saya deskripsikan di atas.  Mengutamakan generasi perubahan dengan berbagai literatur kondisi utamanya di negeri kita yang sedang tidak baik – baik saja. Kita mencetak generasi perubahan bukan generasi penerus, kondisi yang terjadi di Indonesia bukan untuk diteruskan tapi diperbaiki dan melakukan perubahan.

DAFTAR PUSTAKA
Yussy Elly, dkk. 2019. Menepis Bias (Rekonstruksi Gender Untuk Gerakan Berkeadilan).
Yogyakarta : Semesta Ilmu.
Pemerintah Indonesia. 2003. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Lembaran RI Tahun 2003. Jakarta :
Sekretariat Negara.
Riza Fajar. 2017. Membela Islam Membela Kemanusiaan. Bandung : PT Mizan
            Pustaka.



[1] Menepis bias, rekonstruksi gender untuk gerakan yang berkeadilan (Yogyakarta : Semesta Ilmu, 2019), hlm. 2
[2] Fajar Riza. Membela Islam Membela Kemanusiaan. (Bandung : PT Mizan Pustaka, 2017), hlm. 166

Comments

Popular posts from this blog

SECERCAH MERAH